A Journey of Life

This blog is made for all ages arround the world. I offer readers with all of features. The theme is abot life. Life not only material or phsycal only but also everythings we know in our life. We life for future.

MISS MAS SMADA 2009

Miss Mas SMADA 2009 adalah rangkaian acara PHBN dalam menyambut Hari Kartini dan Hari Pedidikan Nasional di SMA Negeri 2 Kediri yang rutin diadakan setiap tahun.

My First Book "Unforgettable Moments"

Kisah-kisah di buku ini adalah kisah penuh warna yang dialami oleh para kontributornya. Dari segala kisah yang ada diharapkan dapat memberikan pelajaran, hikmah, inspirasi dan manfaat bagi pembaca.

My Second Book "Kunti, I Love You dan Komedi Putar"

Buku 2 in 1 ini menyajikan 44 kisah cinta Pocong dan Kunti paling gokil dan romantis dan 34 kisah gokil berhadiah tawa yang pernah dialami oleh para penulisnya.

My Third Book, "Tas, Buku, dan Sepatu"

Buku ini adalah persembahan dari kawan-kawan grup Bunga Fiksi untuk mereka yang tak kenal lelah berjuang dan bertahan menggapai mimpi di bawah atap mata air ilmu, yaitu sekolah

Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2009

LAND OF THE LOST', Terjebak di Dimensi Lain

Oleh: Fatchur Rochim
Pemain: Will Ferrell, Anna Friel, Danny McBride, Jorma Taccone


Rick Marshall (Will Ferrell) adalah seorang ahli purbakala yang berdedikasi tinggi. Namun karena teorinya yang dianggap tak masuk akal, Rick terpaksa harus turun pangkat dari seorang ilmuwan menjadi pengajar ilmu pengetahuan buat anak-anak. Suatu ketika Rick berhasil membuktikan bahwa teori perpindahan waktu yang ia kemukakan memang benar, sayangnya tak ada yang bisa mengkonfirmasi karena ia berpindah waktu tanpa ada saksi dan celakanya untuk kembali sepertinya bukan pekerjaan yang mudah.

Pertemuannya dengan Holly Cantrell (Anna Friel) membuat Rick yang berusaha melupakan teori perpindahan waktu mulai kembali bergairah. Ia pun memperbaiki tachyon amplifier yang semula ia buat untuk membuktikan bahwa manusia bisa berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Rick dan Holly kemudian mencobanya saat mereka berada di Devils Cave bersama seorang tour guide bernama Will Stanton (Danny R. McBride). Saat mencobanya, terjadi gempa bumi yang membawa mereka bertiga berpindah waktu, tanpa tachyon amplifier.

Terpaksa mereka bertiga harus mengalami petualangan menegangkan di dunia yang serba liar yang masih dikuasai oleh binatang purbakala itu. Tanpa senjata dan peralatan, Rick hanya bisa mengandalkan apa yang ia tahu tentang binatang purbakala itu dan menjadikannya senjata untuk bisa bertahan hidup.

Masalahnya, untuk bisa kembali ke dunia mereka, hanya ada satu jalan yang harus mereka lalui, portal antar dimensi dan untuk mencari portal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Jelas tidak jika mereka juga harus berusaha meloloskan diri dari kejaran makhluk purba yang tak bersahabat itu.

Menilai film LAND OF THE LOST ini bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Pertama ide masuk ke dunia lain bersama dinosaurus sepertinya sudah basi. JURASSIC PARK sempat menggegerkan dunia saat membawa ide yang lumayan segar saat itu. Tapi mengulangnya lagi di saat ini sepertinya sudah tak masuk akal. Disebut ikut-ikutan tren sepertinya juga kurang tepat karena tren remake film 1960-an atau 1970-an sudah lewat beberapa tahun lalu. Lalu apa tujuannya?

ika sang sutradara bermaksud membuat sarana untuk bernostalgia, rasanya juga kurang tepat karena penjabaran ide dasar menjadi sebuah alur cerita pun kurang logis. Tiga puluh tahun lalu ide fiksi itu mungkin masih menarik dinikmati orang dewasa, tapi untuk saat ini sepertinya cerita film ini hanya akan menarik buat anak kecil.

Kalau target market-nya anak kecil atau remaja belasan tahun, film ini juga punya beberapa kelemahan. Special effect yang digunakan tak cukup realistis untuk bisa dinikmati generasi muda jaman sekarang. Mereka sudah dijejali banyak film dengan CGI yang benar-benar memukau seperti TRANSFORMERS misalnya.
Read more >>

Senin, 17 Agustus 2009

THE TAKING OF PELHAM 1 2 3', Pembajakan Kereta Bawah Tanah

Pemain: Denzel Washington, John Travolta, James Gandolfini, Luis Guzman, John Turturro, Gbenga Akinnagbe

Walter Garber (Denzel Washington) hanyalah seorang petugas kereta api bawah tanah yang ingin hidup tenang. Dan selama ia bertugas memang tak pernah ada kejadian apapun yang sampai membahayakan nyawanya. Semuanya berubah ketika Bernard Ryder (John Travolta) jadi salah satu penumpang di kereta Walter.

Bernard dan kawan-kawannya berencana membajak kereta api bawah tanah yang penuh dengan penumpang itu dan meminta tebusan sebesar US$10 juta. Bernard hanya memberi waktu satu jam untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dan menyerahkannya pada Bernard atau ia akan menghabisi seluruh penumpang tak berdosa yang ada dalam kereta itu.

Sebenarnya Walter tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan para penumpang kereta itu namun karena ia yang berwenang di sana, maka mau tak mau ia menjadi negosiator antara pihak kepolisian dan gerombolan Bernard yang makin kehilangan kesabaran.

Saat waktu yang diberikan Bernard sudah hampir habis, Walter hanya bisa menawarkan dirinya sebagai ganti dari para sandera dengan harapan bisa memperdaya para pembajak dengan bekal pengetahuannya tentang jalur kereta api bawah tanah di sana. Ada satu pertanyaan yang masih tetap menghantui Walter. Seandainya para pembajak berhasil mendapatkan uang tebusan, bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari polisi?
Membuat remake dari sebuah film tak sama dengan membuat remake dari sebuah lagu. Mendaur ulang sebuah lagu punya sisi menguntungkan karena publik sudah kenal lagu itu dan akan lebih mudah mengadopsi lagu dalam versi baru tersebut. Film, di sisi lain, tidak mendapatkan keuntungan itu karena bila publik sudah tahu jalan ceritanya maka unsur surprise sudah tak ada lagi.

Dalam kasus THE TAKING OF PELHAM 1 2 3, sutradara Tony Scott dan Brian Helgeland sebagai penulis naskah cukup jeli dan mencoba menampilkan film lawas ini dalam interpretasi yang lebih segar. Tony mencoba menggali sisi yang tak didapatkan dari film aslinya dan mengolahnya menjadi sebuah psychological thriller yang memukau. Sisi yang digali Tony adalah hubungan pribadi antara Walter Garber yang diperankan oleh Denzel Washington dan Bernard Ryder yang dimainkan oleh John Travolta.

Pemilihan aktor pun cukup tepat. Kalau Anda masih ingat FACE OFF, Anda pasti masih ingat bagaimana Travolta mampu mengubah dirinya menjadi sosok penjahat keji yang tak kenal belas kasihan. Rekor Denzel Washington pun sudah membuktikan bahwa aktor yang satu ini sama sekali tak bisa diremehkan. Travolta mampu menampilkan kemarahan Ryder dengan sangat brilian sementara Washington pun tampil meyakinkan sebagai Garber yang punya kegigihan luar biasa.

Penampilan kedua aktor ini jadi menarik karena mereka berdua mampu menghidupkan karakter yang sebenarnya klasik ini menjadi sosok yang hidup, fresh dan tak terjebak pada stereotype. Sayang kemampuan ini tak bisa diimbangi oleh para pemain yang berperan menjadi sandera dalam kereta api yang dibajak Ryder. Akibatnya ada kesan bahwa suasana penyanderaan ini sedikit terasa generik.

Kalaupun ada yang terasa mengganggu, barangkali adalah teknik pengambilan gambar yang terlalu 'artistik'. Teknik blur, slow-motion dan swish-pan yang digunakan jadi terasa tak efektif dan cenderung mengganggu. Alur yang sudah bagus dan editing yang efektif sebenarnya sudah cukup membuat film ini jadi menegangkan tanpa harus menggunakan teknik pengambilan gambar yang aneh-aneh.
Read more >>

'ORPHAN', Misteri Bocah Yatim Piatu

Pemain: Peter Sarsgaard, Vera Farmiga, Isabelle Fuhrman
Oleh: Fatchur Rochim

Sejak mengalami keguguran, kehidupan keluarga Kate Coleman (Vera Farmiga) dan John Coleman (Peter Sarsgaard)mulai mengalami masalah. Hubungan yang semula harmonis mulai sedikit guncang, apalagi ketika Kate mulai dihantui mimpi-mimpi buruk.

Keduanya lantas memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dengan harapan bisa memulihkan kondisi seperti semula. Segera saja keduanya mengunjungi sebuah panti asuhan untuk mencari kandidat anak yang bisa mereka adopsi. Saat tiba di sana, perhatian mereka tertuju pada seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang terlihat sangat lugu. Keduanya pun lantas memutuskan untuk mengadopsi anak bernama Esther (Isabelle Fuhrman) ini.

Sayang, Kate dan John tak tahu siapa sebenarnya Esther. Sejak kedatangan Esther, beberapa hal misterius mulai terjadi. Kate mulai curiga bahwa ini semuanya ada hubungannya dengan Esther, sayangnya tak ada yang percaya pada kata-kata Kate. Mereka mengira Kate hanya masih dihantui mimpi-mimpi buruknya.

Konsep thriller yang dibawa film berjudul singkat, ORPHAN, ini sebenarnya klasik. Film-film thriller jaman Alfred Hitchcock juga mengusung teknik yang sama. Tokoh utama yang seorang wanita sebenarnya sudah tahu ada yang tak beres dengan situasi yang ia hadapi namun di saat yang sama, posisinya tak menguntungkan sehingga semua orang mengira ia tak waras.

GOTHIKA yang dibintangi Halle Berry juga mengusung trik yang sama. Bedanya, ORPHAN ini terjebak pada obsesi untuk membuat suasana jadi sangat menegangkan sehingga banyak adegan 'mengejutkan' yang muncul di saat tak seharusnya. Terlalu banyaknya momen shocking ini malah membuat suasana tak lagi menegangkan karena trik ini jadi tak efektif lagi.

Secara visual, pewarnaan didukung dengan pemilihan lokasi yang cenderung membawa kesan 'dingin' sebenarnya sudah bagus. namun sekali lagi terlalu banyaknya 'kejutan' jadi membuat suguhan visual ini jadi terasa sia-sia. Padahal kalau saja Jaume Collet-Serra, sang sutradara, mau sedikit pelit soal yang satu ini, ORPHAN bisa jadi sebuah thriller yang sangat efektif.

Pemilihan pemeran pun cukup bagus. Vera Farmiga cukup efektif sebagai seorang wanita yang terlihat tak stabil dan ketakutan sementara Isabelle Fuhrman yang memerankan Esther pun cukup membuat bulu kuduk berdiri. Dari para tokoh inti ini, barangkali hanya Peter Sarsgaard yang kurang pas membawakan perannya.

Soal ide cerita, fresh barangkali bukan kata yang tepat. Ada kesan bahwa film ini terinspirasi beberapa film horor yang sudah beredar lebih dulu seperti THE OMEN misalnya. Kalaupun ada kejanggalan, mungkin pemilihan ending-nya saja yang kurang menggigit. Ada kesan ending film ini terlalu dipaksakan dan tak logis lagi.
Read more >>

Kamis, 13 Agustus 2009

G.I. JOE: THE RISE OF COBRA', Bangkitnya Organisasi Cobra

Pemain: Channing Tatum, Christopher Eccleston, Sienna Miller, Dennis Quaid, Ray Park, Rachel Nichols, Marlon Wayans, Joseph Gordon-Levitt, Lee Byung Heon
Oleh: Fatchur Rochim

M.A.R.S. berhasil membuat sebuah senjata biologis yang sangat berbahaya dan memberinya nama nanomites. James McCullen (Christopher Eccleston) lantas memerintahkan dua orang serdadu NATO, Duke (Channing Tatum) dan Ripcord (Marlon Wayans) untuk mengawal sebuah tas berisi nanomites ini agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang salah.

Sayang dalam perjalanan, Duke dan Ripcord disergap oleh sekawanan serdadu bayaran yang dipimpin oleh Baronness (Sienna Miller). Kalah dalam sisi jumlah dan persenjataan, Duke dan Ripcord hampir saja mengalami nasib tragis kalau saja General Hawk (Dennis Quaid) dan pasukannya datang menolong. Namun meskipun begitu, tas berisi nanomites tetap saja dapat direbut Baronness dan kawan-kawannya.

General Hawk lantas mengajak Duke dan Ripcord untuk bergabung dengan pasukan elit yang ia bentuk, tim tentara super yang ia sebut G.I. Joe. Merasa bertanggung jawab pada nanomites yang kini berada di tangan sekelompok teroris dan dendam atas kekalahan dari musuh lamanya, Baronness, Duke pun bersedia bergabung bersama G.I. Joe.

Kini, bersama dengan Scarlett (Rachel Nichols), Snake Eyes (Ray Park) dan tim G.I. Joe yang lain, Duke dan Ripcord harus bekerja keras memburu Baronness dan seluruh anggota organisasi Cobra yang bermaksud menggunakan nanomites ini untuk menguasai seluruh dunia dengan cara menebar penderitaan dan ketakutan.
Film G.I. JOE: THE RISE OF COBRA ini dibuat berdasar franchise mainan anak-anak G.I. Joe: A Real American Hero yang diproduksi oleh Hasbro antara tahun 1982 dan tahun 1994. Dalam versi toy-nya, ada sekitar 500 karakter dan sekitar 250 kendaraan yang dirilis ke pasar dan film ini mencoba memberikan visualisasi dari para karakter inti yang muncul pada jajaran mainan ini.
Seolah paham bahwa G.I. Joe adalah sebuah legenda, sutradara Stephen Sommers berusaha membuat alur kisah film ini sedekat mungkin dengan fakta-fakta yang ada dalam franchise ini. Secara umum, film ini memang seolah adalah perpanjangan tangan dari franchise yang bermula dari produk toy sampai dibuatkan versi kartunnya ini. Kenyataan ini jelas akan menjadi sebuah berkah buat para die-hard fans franchise ini.
Ada beberapa hal lagi yang membuat Stephen Sommers jadi 'sukses' mengadaptasi franchise ini adalah pemilihan para pemeran yang tergolong cukup mampu berakting untuk sebuah film yang sebenarnya sama sekali tak memerlukan kemampuan akting. Kedua, Stephen Sommers mampu menyajikan pengalaman berbeda buat penonton. Artinya, penonton dibawa untuk bisa melihat dari dekat aksi laga para tokoh pujaan mereka dari dekat. Koreografi tarung tak hanya dibuat menarik namun penonton juga dapat melihat dengan jelas 'apa yang sedang mereka lakukan'.
Stephen Sommers juga mengusung setumpuk gadget berteknologi tinggi dan kendaraan tempur layaknya dalam versi toy maupun kartunnya dan membuat film ini jadi lebih dekat dengan sumber aslinya. Meski tergolong film laga dengan tensi tinggi, namun Sommers tetap membuatnya 'ramah' buat anak-anak mengingat film ini harus masuk kategori PG-13. Artinya, meski aksi laga cukup violent, namun Anda tak akan melihat ada darah berceceran seperti pada film SAW misalnya.
Sayang kelebihan yang sudah ada itu tak diimbangi dengan penulisan naskah yang bagus juga. Bisa dikatakan bahwa ide cerita film ini sangat sederhana, nyaris ide cerita film kartun yang berdurasi sekitar 30 menit saja. Sisa waktu hanya diisi oleh serangkaian aksi laga untuk memenuhi kuota agar bisa disebut sebuah film feature.
Karakter tak cukup dieksplorasi sehingga para aktor pun tak punya ruang untuk membuat para karakter yang mereka perankan terasa 'hidup. Dialog bisa dibilang absen dan digantikan dengan sederet catch phrase macam "Damn, that ninja’s fast!" atau "Dead guys don't breakdance" misalnya. Namun terlepas dari itu, tetap saja G.I. JOE: THE RISE OF COBRA ini adalah sebuah film yang 'menghibur'.
Read more >>

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More